Kamis, 27 Oktober 2011

Hanya Satu Persen Saja

Ini tentang harapanku..., harapan yang selalu berfluktuasi, kadang bertumbuh dengan pesatnya, atau susut karena jenuhnya. Tentang harapan yang hanya satu persen saja, tentang harapan pada sebuah episode kehidupan.

Bukankah harapan harusnya jadi energi positif? harusnya begitu. Kuatnya harapan terwujudkan pada doa terdalam yang selalu ku panjatkan kepada-Nya, Sang empunya Takdir. Susutnya harapan terwakili pada kenyataan, bahwa takdir tak berpihak padaku, bahwa impian tidaklah seindah kenyataan, yang dalam sekian waktu selalu mengubahnya menjadi energi negatif, membuatku jatuh dan sulit untuk bangkit dalam kesekian kali kejatuhanku. Semua membuat cara pandangku berubah, padahal dunia tak berubah sama sekali. Semua masih pada tempatnya semula, masih seperti sedia kala. Aku sadar, tak ada satu orang pun yang mampu menolak kesedihan, sama halnya tak ada yang dapat menduga hal-hal mujur bisa terjadi kapan saja, hanya seketika, hanya sekejap saja, tak ada yang pernah menduga.



Hanya satu persen saja..., hanya senilai itu saja harapanku yang tersisa. Masih layak kah disebut harapan? atau haruskah aku berhenti berharap? Andai aku bisa melakukannya, semua akan baik-baik saja, dan  mengembalikannya ke tempat semula, dalam keheningan hatiku.

Harapanku yang hanya satu persen saja, ku serahkan seluruhnya kepada-Mu wahai Penguasa Hati, Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, juga Maha Mengetahui. Hanya keajaiban-Mu yang bisa mewujudkan harapan itu. Untuk harapan yang hanya tinggal satu persen saja, ku muara kan pada keikhlasan, menerima semua ketentuan-Mu, membiarkan tangan-Mu bekerja padaku, menyerahkan segalanya kepada-Mu, Sang Pemilik Jiwa, Sang Pencipta.

Andai satu persen itu adalah milikku, beri aku kesempatan mensyukurinya seumur hidupku ya Robb, dan andai Kau tak menghendakinya, beri aku keikhlasan seluas-luasnya untuk menerima takdir-Mu, bahwa semua ketentuan-Mu adalah yang terbaik untuk ku. Amin