Jumat, 20 April 2012

INI ALASANNYA



Menulis bukanlah hal yang mudah untuk saya, yang bagi sebagian orang adalah hal yang wajar-wajar saja. Tak mudah… karena sulit membuat apa yang berkecamuk di hati berpindah dalam bentuk tulisan. Tak mudah juga, karena tak semua layak dipublikasi dengan alasan “super” privasi:)

Dulu.., mungkin sebagian orang memilih diary untuk curahan hatinya, tapi tidak dengan saya. Saya terbiasa menulis riak-riak hati hanya dalam selembar kertas saja, menyimpannya untuk jangka waktu beberapa lama. Membacanya jauh berbulan-bulan atau bertahun kemudian, dan bersiap-siap melemparkannya kedalam tong sampah. Bagi saya ini hanya sebagai memori saja, sekedar mengenang saja, tak bermaksud untuk kembali dalam kisah usang yang kadang bikin hati meradang;)

Ya, karena hidup adalah perjalanan, karena hidup adalah proses belajar yang tak pernah selesai hingga akhir usia, saat Tuhan mencukupkan waktu yang ada Cuma sebatas itu saja, atau umur ekstra yang semoga saja banyak manfaatnya.

Proses belajar ini yang membuat saya menulis…saya belajar tentang kehidupan,  belajar dari setiap kesalahan, belajar dari wilayah “abu-abu” yang selalu ada diantara “hitam dan putih”nya kehidupan yang setiap orang memilikinya..belajar mencari makna dari kisah yang tersurat atau tersirat… belajar tentang banyak hal dalam setiap prosesnya. Hidup yang tak akan pernah mulus saja, atau selalu berkerikil saja, hidup yang tak selalu tertawa saja, atau menangis saja. Hidup yang juga adalah soal memilah dan memilih yang kadang tak selalu benar, dan tak selalu salah, dengan segala konsekuensinya.

Menulis juga bagian dari terapi jiwa…sekedar membuang jenuh dan letihnya raga, keluar dari rutinitas yang tak pernah ada habisnya, yang juga bagian dari sisi lain saya. Ya saya, yang terbiasa dengan kerumitan kerja serabutan “ala”nya saya dengan mengusung tema “yang penting halal”… :)

Menulis membuat saya bahagia, sama bahagianya saat saya bisa menyelesaikan puzzle yang menghabiskan banyak waktu hanya untuk membuatnya utuh sempurna. Menulis membuat saya merasa ada, alasan dominan yang tak pernah membuat saya jengah saat mencoba merangkai kata menjadi cerita yang adalah bagian dari perjalanan saya, yang takkan selalu terkisah dalam “Sejenak Bercerita”.