Menulis
bukanlah hal yang mudah untuk saya, yang bagi sebagian orang adalah hal yang
wajar-wajar saja. Tak mudah… karena sulit membuat apa yang berkecamuk di hati
berpindah dalam bentuk tulisan. Tak mudah juga, karena tak semua layak
dipublikasi dengan alasan “super” privasi:)
Dulu..,
mungkin sebagian orang memilih diary untuk curahan hatinya, tapi tidak dengan
saya. Saya terbiasa menulis riak-riak hati hanya dalam selembar kertas saja,
menyimpannya untuk jangka waktu beberapa lama. Membacanya jauh berbulan-bulan
atau bertahun kemudian, dan bersiap-siap melemparkannya kedalam tong sampah.
Bagi saya ini hanya sebagai memori saja, sekedar mengenang saja, tak bermaksud
untuk kembali dalam kisah usang yang kadang bikin hati meradang;)
Ya,
karena hidup adalah perjalanan, karena hidup adalah proses belajar yang tak
pernah selesai hingga akhir usia, saat Tuhan mencukupkan waktu yang ada Cuma
sebatas itu saja, atau umur ekstra yang semoga saja banyak manfaatnya.
Proses
belajar ini yang membuat saya menulis…saya belajar tentang kehidupan, belajar dari setiap kesalahan, belajar dari
wilayah “abu-abu” yang selalu ada diantara “hitam dan putih”nya kehidupan yang
setiap orang memilikinya..belajar mencari makna dari kisah yang tersurat atau
tersirat… belajar tentang banyak hal dalam setiap prosesnya. Hidup yang tak akan
pernah mulus saja, atau selalu berkerikil saja, hidup yang tak selalu tertawa
saja, atau menangis saja. Hidup yang juga adalah soal memilah dan memilih yang
kadang tak selalu benar, dan tak selalu salah, dengan segala konsekuensinya.
Menulis
juga bagian dari terapi jiwa…sekedar membuang jenuh dan letihnya raga, keluar
dari rutinitas yang tak pernah ada habisnya, yang juga bagian dari sisi lain
saya. Ya saya, yang terbiasa dengan kerumitan kerja serabutan “ala”nya saya
dengan mengusung tema “yang penting halal”… :)
Menulis
membuat saya bahagia, sama bahagianya saat saya bisa menyelesaikan puzzle yang menghabiskan
banyak waktu hanya untuk membuatnya utuh sempurna. Menulis membuat saya merasa
ada, alasan dominan yang tak pernah membuat saya jengah saat mencoba merangkai
kata menjadi cerita yang adalah bagian dari perjalanan saya, yang takkan selalu
terkisah dalam “Sejenak Bercerita”.